Psikologiuhuy's Blog

psikologi self Carl Rogers

Posted on: April 21, 2010

  1. 1. Biografi Singkat Carl Rogers

Rogers lahir di Oak Park, Illinois, pada 8-1-1902. Pada umur 12 tahun keluarganya mengusahakan pertanian dan Rogers menjadi tertarik kepada pertanian secara ilmiah. Pertanian ini membawanya ke perguruan tinggi. Setelah menyelesaikan pelajaran di University Of Wisconsin pada 1924 dia lalu masuk Union Theological Seminary di New York City, di mana dia mendapat pandangan yang liberal dan filsafat mengenai agama. Kemudian pindah ke Teachers College of  Coulmbia; di sana dia terpengaruh oleh filsafat John Dewey serta mengenal psikologi klinis dengan bimbingan L. Hollingworth. Dia mendapat gelar  M.A. pada 1928 dan doctor pada 1931 di Coulmbia. Pengalaman praktisnya yang pertama – tama  diperolehnya di Institute for Child Guidance. Lembaga tersebut orientasinya Freudian yang spekulatif itu tidak cocok dengan pendidikan yang mementingkan statistic dan pemikiran menurut aliran Thorndike.

Pada tahun 1940 Rogers menerima tawaran untuk menjadi guru besar di Ohio State University. Perpindahan dari pekerjaan klinis ke suasana akademis ini dirasa oleh Rogers sangat tajam. Karena rangsangan-rangsangannya dia merasa terpaksa harus membuat pandangan – pandangannya dalam psikoterapi itu menjadi jelas. Dan ini dikerjakannya pada 1942 dalam buku: Counseling and psychotherapy. Pada tahun 1945 Rogeres menjadi Mahaguru psikologi di In. of Chicago, yang dijabatnya hingga kini. Tahun 1946-1957 menjadi President Psychological Association. Rogers meninggal dunia pada tanggal 4 Pebruari 1987 karena serangan jantung. [1]

  1. 2. Hakekat Pribadi Fenomenologis

Rogers mengemukakan 19 rumusan mengenai hakekat pribadi (self) sebagai berikut:

  1. Organisme berada dalam dunia pengalaman yang terus-menerus berubah (henomenol field), di mana dia menjadi titik pusatnya. Pengalaman adalah segala sesuatu yang berlangsung di dalam diri individu pada saat tertentu, meliputi proses psikologik, kesan –kesan motorik, dan aktivitas aktivitas motorik. Medan fenomenal ini bersifat private, hanya dapat dikenali isi sesungguhnya dan selengkapnya oleh diri sendiri. Karena itu sumber terbaik untuk memahami seseorang adalah orang itu sendiri. Iniah konsep laporan diri (self-report) dari terapi berpusat klien.
  2. Organisme menanggapi dunia sesuai dengan persepsinya.
  3. Organisme mempunyai kecenderungan pokok yaitu keinginan untuk mengaktualisasikan-memelihara-meningkatkan diri (self actualization-maintain-enhance).
  4. Organisme mereaksi medan fenomena secara total (gestalt) & berarah tujuan (good directed).
  5. Pada dasarnya tingkahlaku merupakan usaha yang berarah tujuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan mengaktualisasi-mempertahankan-memperluas diri, dalam medan fenomenanya.
  6. Emosi akan menyertai tingkah laku yang berarah tujuan, sehingga intensitas (kekuatan) emosi itu tergantung kepada pengamatan subyektif seberapa penting tingkah laku itu dalam usaha aktualisasi-memelihara-mengembangkan diri.
  7. Jalan terbaik untuk memahami tingkahlaku seseorang adalah dengan memakai kerangka pandangan itu sendiri (internal frame of reference); yakni persepsi, sikap dan perasaan yang dinyatakan dalam suasana yang bebas atau suasana terapi berpusat klien.
  8. Sebagian dari medan fenomenal sacara berangsur mengalami diferensiasi, sebagai proses terbentuknya self. Self adalah kesadaran akan keberadaan dan fungsi diri, yang diperoleh melalui pengalaman dimana diri (I atau me) terlibat di dalamnya sebagai objek atau subjek.
  9. Struktur self terbektuk sebagai hasil interaksi organisme dengan medan fenomenal, terutama interaksi evaluatif dengan orang lain.
  10. Apabila terjadi konflik antara nilai-nilai yang sudah dimiliki dengan nilai – nilai baru yang akan diintrojeksi, organisme akan meredakan konflik itu dengan (1) merevisi gambaran dirinya, serta mengaburkan (distortion) nilai-nilai yang semula ada di dalam dirinya, atau dengan (2) mendistorsi nilai – nilai baru yang akan ddiintrojeksi/diasimilasi.
  11. Pengalaman yang terjadi dalam kehidupan seseorang akan diproses oleh kesadaran dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda, sebagai berikut:

Disimbolkan (simbolyzed): diamati dan disusun dalam hubungannya dengan self.

Dikaburkan (distorted): tidak ada hubungan dengan struktur self.

Diingkari atau diabaikan (denied atau ignore): pengalaman itu sebenarnya disimbolkan tetapi dibaikan karena kesadaran tidak memperhatikan pengalaman itu atau diingkari karena tidak konsisten dengan struktur self.

  1. Umumnya tingkah laku konsisten dengan konsep self.
  2. Tingkah laku yang didorong oleh kebutuhan organis yang tidak dilambangkan, bias tidak konsisten dengan self. Tingkah laku semacam itu biasanya dilakukan untuk memelihara gambaran diri (self-image), dan tidak diakui sebagai milik/bagian dari dirinya.
  3. Salahsuai psikologis (Psychological maladjustment) akibat adanya tension, terjadi apabia organisme menolak menyadari pengalaman sensorik yang tidak dapat disimbolkan dan disusun dalam kesatuan struktur self-nya.
  4. Penyesuaian psikologis (psychological) terjadi apabila organisme dapat menampung atau mengatur semua pengalaman sensorik sedemikian rupa dalam hubungan yang harmonis dalam konsep diri.
  5. Setiap pengalaman yang tidak sesuai dengan struktur self akan diamati sebagai ancaman (threat).
  6. Dalam kondisi tertentu, khususnya dalam kondisi bebas dari ancaman terhadap struktur self (suasana terapi bersifat klien), pengalaman – pengalaman yang tidak konsisten dengan self dapat diamati dan diuji (untuk dicari konsistensinya dengan self), dan struktur self direvisi untuk dapat mengasimilasi pengalaman-pengalaman itu.
  7. Apabila organisme mengamati dan menerima semua pengalaman sensoriknya ke dalam system yang integral dan konsisten, maka dia akan lebih mengerti dan menerima orang lain sebagai individu yang berbeda. Orang yang defensive dan mengingkari perasaannya sendiri cenderung iri dan benci kepada orang lain; yang akan merusak hubungan sosialnya.
  8. Semakin banyak individu mengamati dan menerima pengalaman sensorik ke dalam struktur selfnya, kemungkinan terjadinya introjeksi/revisi nilai-nilai semakin besar. Ini berarti terjadi proses penilaian yang berlanjut terus-menerus (continuing valuing process) terhadap system struktur self.[2]
  1. 3. Struktur kepribadian

Karena sejak awal Rogers mengurusi cara bagaimana kepribadian berubah dan berkembang, Rogers tidak menekankan aspek structural dari kepribadian. Namun, demikian, dari 19 rumusannya mengenai hakikat pribadi, diperoleh 3 konstruk yang menjadi dasar penting dalam teorinya: organisme, medan fenomena dan self.

Organisme mengandung 3 pengertian, yaitu:

  1. Makhluk hidup: organisme adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologiknya. Organisme adalah tempat semua pengalaman, segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadaran setiap saat, yakni persepsi seseorang mengenai event yang terjadi di dalam diri dan di dunia eksternal.
  2. Realitas subyektif: Organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya. Realita adalah medan persepsi yang sifatnya subjektif, bukan fakta benar-salah. Realita subyektif semacam itulah yang menentukan/membentuk tingkah laku.
  3. Holisme: organisme adalah satu kesatuan system, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian lain. Setiap perubahan memiliki makan pribadi dan bertujuan, yakni tujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.

Medan Fenomena (Phenomenal Field)

Keseluruhan pengalaman, baik yang internal maupun eksternal, disadari maupun yang tidak disadari dinamakan medan fenomena. Medan fenomena adalah seluruh pengalaman pribadi seseorang sepanjang hidupnya di dunia, sebagaimana persepsi subyektifnya.

Beberapa deskripsi tersebut menjelasakan pengertian medan fenomena:

  1. Meliputi pengalaman internal (persepsi mengenai diri sendiri) dan pengalaman eksternal (persepsi mengenai dunia luar).
  2. Meliputi pengalaman yang disimbolkan (diamati dan disusunn dalam kaitannya dengan diri sendiri), disimbolkan tetapi diingkari/ dikaburkan  (karena tidak konsisiten dengan struktur dirinya), dan tidak disimbolkan atau diabaikan (karena diamati tidak mempunyai hubungan dengan struktur diri). Pengalaman yang disimbolkan disadari, sedang pengalaman yang diingkari dan yang diabaikan tidak disadari.
  3. Semua persepsi bersifat subjektif, benar bagi dirinya sendiri.
  4. Medan fenomena seseorang tidak dapat diketahui oleh orang lain melalui inferensi empatik, itu pun pengetahuan yang diperoleh tidak bakal sempurna.[3]

SELF

Konsep diri menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. Sedangkan Congruence berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati. [4]

Diri merupakan salah satu konstruk sentral dalam teori Rogers, dan ia telah memberikan suatu penjelasan yang menarik bagaimana ini terjadi

Berbicara secara pribadi, saya memulai karya saya dengan keyakinan yang mantap bahwa  “diri” adalah suatu istilah yang kabur, ambigu atau bermakna ganda, istilah yang tidak berarti secara ilmiah, dan telah hilang dari kamus para psikolog, bersama menghilangnya para introspeksionis. Dari sebab itu, saya lambat menyadari bahwa apabila klien-klien diberi kesempatan untuk mengungkapkan masalah – masalah mereka dan sikap – sikap mereka dalam istilah – istilah mereka sendiri, tanpa suatu bimbingan atau interpretasi, ternyata mereka cenderung berbicara tentang diri…Tampaknya jelas,…bahwa diri merupakan suatu unsur penting dalam pengalaman klien, dan aneh karena tujuannya adalah menjadi ‘diri-sejati’-nya (Rogers, 1959, hlm 200-201)[5]

Konsep pokok dari teori kepribadian Rogers adalah self, sehingga dapat dikatakan self merupakan satu-satunya struktur kepribadian yang sebenarnya. Beberapa penjelasan mengenai self dapat disimpulkan dari 19 rumusan Rogers:

  1. Self terbentuk melalui diferensiasi medan fenomena .
  2. Self juga terbentuk melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu (significant person=orang tua) dan dari distorsi pengalaman.
  3. Self bersifat integral dan konsisten
  4. Pengalaman yang tidak sesuai dengan struktur self dianggap sebagai ancaman.
  5. Self dapat berubah sebagai akibat kematangan biologic dan belajar.

Dalam teori Rogers secara implisit terdapat dua manifestasi lain dari kongruensi-inkongruensi. Pertama adalah kongruensi atau inkongruensi antara kenyataan subjektif (medan fenomenal) dan kenyataan luar (dunia sebagaimana adanya). Kedua adalah tingkat kesesuaian diri antara diri dan diri ideal. Apabila perbedaan antara diri dan diri ideal adalah besar, maka orang merasa tidak puas dan tidak dapat menyesuaikan diri.[6]

  1. 3. Dinamika Kepribadian

Penerimaan Positif

Perkembanngan pengalaman menempatkan regard positif timbal balik. Orang merasa puas menerima regard positif, kemudian juga merasa puas dapat memberi regard positif kepada orang lain. Ketika regard positif itu diinternaliasai, orang dapat memperoleh kepuasan dari menerima dirinya sendiri, atau menerima diri positif  (positive self regard).

Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak – kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.

Organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang diletakkan oleh hereditas. Ketika organisme itu matang, maka akan berdifferensiasi, makin luas, makin otonom, dan makin tersosialisasikan. Tendensi dasar pertumbuhan ini mengaktualisasikan dan mengekspansikan diri sendiri – tampak paling jelas sekali bila individu diamati dalam suatu jangka  waktu yang lama. Ada suatu gerak maju pada kehidupan setiap orang; tendensi yang tak henti-hentinya inilah yang merupakan satu – satunya kekuatan yang benar-benar dapat diandalkan oleh ahli terapi untuk mengadakan perbaikan dalam diri klien.

Secara ringkas, rogers mengasumsikan bahwa  pada dasarnya ada semua peluang semua tingkah laku manusia diarahkan atau bertujuan meningkatkan kompetensinya, yang berarti mengaktualiasasikan dirinya. Besarnya sumbangan tingkah laku terhadap tendensi aktualisasi diri dapat dinilai, melalui proses penilaian organisme (organismic valuing process). Pengalaman tingkah laku yang meningkatkan dan mengembangkan self dinilai  positif, sebaliknya pengalaman yang menghalangi aktualisasi dinilai negative. Aktualisasi diri merupakan tujuan ideal, dimana tidak seorangpun mampu mencapai aktualisasi potensinya secara tuntas. Rogers percaya, tidak ada seorangpun ang dapat menacapai aktualisasi diri sepenuhnya sehingga tidak membutuhkan motivasi lagi. Menurutnya, akan selalu ada bakat yang harus dikembangkan, keterampilan yang  harus dikuasai, atau dorongan biologic yang dapat lebih dipuaskan secara lebih efisien.[7]

  1. 4. Perkembangan Kepribadian

Rogers tidak membahas teori pertumbuhan dan perkembangan, dan tidak melakukan riset jangka panjang yang mempelajari hubungan anak dengan orangtuanya. Namun dia yakin adanya kekuatan tumbuh pada semua orang yang secara alami mendorong proses organisme semakin kompleks, ekspansi otonom, social, dan secara keseluruhan semakin aktualisasi-diri. Struktur self menjadi bagian terpisah dari medan fenomena  dan semakin kompleks. Self berkembang secara utuh keseluruhan, emnyentuh semua bagian-bagiannya. Berkembangnya self diikuti oleh kebutuhan penerimaan positif, dan penyaringan tingkalaku yang disadari agar tetap kongruen dengan struktur self.

PRIBADI YANG UTUH

Berfungsi utuh adalah istilah yang dipakai Rogers untuk menggambrakan individu yang memakai kapasitas dan bakatnya, merealisasi petensinya, dan bergerak menuju pemahaman yang lengkap mengenai dirinya sendiri an seluruh tentang pengalamannya..[8]

Rogers memerinci 5 ciri kepribadian orang yang berfungsi sepenuhnya.

Lima sifat khas orang yang berfungsi sepenuhnya (fully human being):

  1. 1. Keterbukaan pada pengalaman

Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positip maupun negative

  1. 2. Kehidupan Eksistensial

Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya.

  1. 3. Kepercayaan terhadap organisme orang sendiri

Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.

  1. 4. Perasaan Bebas

Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan – paksaan atau rintangan – rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya.

  1. 5. Kreativitas

Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri – ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya.[9]

Kelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata – mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.

Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respons secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subyektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara obyektif.

Rogers juga mengabaikan aspek – aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.

PERKEMBANGAN PSIKOPATOLOGI

Menurut Rogers, orang maladjustment sepertinya tidak sadar dengan perasaan yang mereka ekspresikan (yang ditangkap secara jelas oleh orang luar). Mereka juga tidak sadar dengan pernyataan yang bertentangan dengan self-nya dan menolak ekspresi yang dapat mengungkap hal itu.

Tak Saling Suai (Inhcongruence)

Orang yang secara psikologik sangat sehatpun secara berkala tetap dihadapkan dengan pengalaman yang mengancam konsep dirinya yang memaksanya untuk mendistorsi atau mengingkari pengalamannya. Ketika pengalaman sangat tidak konsisten dengan stuktur self atau pengalamn inkongruen sering timbul, tingkat kecemasan yang terjadi dapat merusak rutuinitas dan orang manjadi neurotic.

Kecemasan dan Ancaman

Rogers mendefinisi kecemasan sebagai “keadaan ketidaknyamanan ayau ketegangan yang sebabnya tidak diketehui”. Ketika orang semakin tidak menyadari ketidakkongruenan antara pengalaman dengan perspesi dirinya, kecemasan berubah menjadi ancaman terhadap konsep diri konguren, dan terjadi pergeseran konsep diri kongruen.

Tingkah Laku Bertahan

Rogers hanya mengklasisikasikan dua tingkah laku bertahan, yakni distorsi dan denial (distortion and denial). Termasuk dalam distorsi adalah kompulsif, kompensasi, rasionalisasi, fantasi, projeksi.

  1. Distorsi: pengalaman diinterpretasi secara salah dalam rangka menyesuaikannnya dengan aspek yang ada dalam konsep self. Oranf mempersepsi pengalaman secara sadar tapi gagal menangkap (tidak menginterpretasi) makna pengalaman seperti yang sebenarnya. Dapat menimbulkan bermacam defense dan tingkah laku salah suai.
  2. Denial: orang menolak menyadari suatu pengalaman, atau paling tidak mengahalngi beberapa bagian dari pengalaman untuk disimbolisasi. Pengingkaran itu dilakukan terhadap pengalaman yang tidak kongruen dengan konsep diri, sehingga orang terbebas dari ancaman ketidak-kongruenan diri

PSIKOTERAPI

Rogers menamakan teknik terapinya: Terapi berpusat pada klien. Terapi ini dkemukakan dalam paparan yang sederhana, namun dalam praktek sulit diaplikasikan. Secara singkat, pendekatan berpusat pada klien berpendapat, agar orang yang rentan dan cemas dapat mengembangkan jiwanya, mereka harus mengadakan kontek dengan terapis yang kongruen,dan dapat menciptakan suasana penerimaan tanpa syarat dan empati yang akurat. Namun disinilah letak kesulitannya, konselor yang kongruen, menerima positif tanpa syarat, dan pemahaman empatih tidak mudah ditemukan.

Konseling berpusat klien dapat dideskripsikan dalam bentuk jika-makna:Jika kondisi terapis kongruen, menerima tanpa syarat – dan empatis dapat diciptakan, maka proses terapi akan berjalan lancar. Jika proses terapi berjalan, maka dapat diharapkan hasilnya dapat mengembangkan klienke arah yang dikehendaki. [1o]


[1] Sumadi S., Psikologi Kepribadian. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2006. hlm. 244-255

[2] Al-wisol. . Psikologi Kepribadian. UMM Press. Malang. Hlm.318-320

[3] Al-wisol. . Psikologi Kepribadian. UMM Press. Malang. Hlm. 321-322

[4] Schultz, Duane. Psikologi Pertumbuhan: Model – Model Kepribadian Sehat. Jogjakarta: Kanisius, 1991.

[5] Gardnes Lindzey, Calvin. Teori –teori Holistik Psikologi Kepribadian 2. Editor: Supratiknya. Yogyakarta. Kanisius. 1993 . hlm. 134

[6] Al-wisol. . Psikologi Kepribadian. UMM Press. Malang. Hlm. 322

[7] Al-wisol. . Psikologi Kepribadian. UMM Press. Malang. Hlm. 323

[8] Al-wisol. . Psikologi Kepribadian. UMM Press. Malang. Hlm. 329

[9] Schultz, Duane. Psikologi Pertumbuhan: Model – Model Kepribadian Sehat. Jogjakarta: Kanisius, 1991.

[1o]Al-wisol. . Psikologi Kepribadian. UMM Press. Malang.  Hlm. 330-333

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: