Psikologiuhuy's Blog

anak berbakat

Posted on: Agustus 5, 2010

A. Pengertian Anak Berbakat
Menurut Milgram R.M (1991:10), anak berbakat adalah mereka yang mempunyai skor IQ 140 atau lebih yang diukur dengan instrument Stanford binet (Terman, 1925), mempunyai kreativitas tinggi (Guilford, 1956), kemampuan memimpin dan kemampuan dalam seni drama, music, tari dan seni rupa. (Marland, 1972)
Santrock (2004) menjelaskan bahwa anak berbakat adalah anak yang memiliki kepandaian diatas rata-rata dan memiliki bakat yang tinggi dalam bidang seperti seni, musik atau matematik.
Menurut USOE (U.S office of education), anak berbakat adalah mereka yang oleh orang-orang professional diidentifikasikan sebagai anak yang mampu mencapai prestasi tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan unggul. Anak tersebut memerlukan program pendidikan yang berdiferensiasi dan atau pelayanan diluar jangkauan program sekolah biasa agar dapat merealisasikan sumbangan mereka terhadap masyarakat maupun untuk pengembangan diri sendiri.
Pengertian anak berbakat dalam program percepatan belajar yang dikembangkan oleh pemerintah dibatasi pada dua hal berikut (Depdiknas. 2001):
1. Mereka yang mempunyai taraf intelligensi yang tinggi atau skor IQ > 125.
2. Mereka yang oleh psikolog dan atau guru diidentifikasikan sebagai peserta didik yang telah mencapai prestasi yang memuaskan, dan memiliki kemampuan intelektual umum yang berfungsi pada taraf cerdas dan memiliki komitment terhadap tugas yang tergolong baik serta kreatifitas yang memadai.
B. Karakteristik Anak Berbakat
Three rings conception dari Renzulli dkk (1981) yang menyatakan bahwa tiga ciri pokok yang merupakan kriteria keberbakatan adalah keterkaitan antara:
1. Kemampuan umum diatas rata-rata.
2. Kreatifitas diatas rata-rata.
3. Pengikatan diri terhadap tugas.
Menurut Suryana (2004:110), karakteristik umum dari anak berbakat, diantaranya:
1. Kecepatan belajar tinggi
2. Kosakata luas
3. Daya ingat tinggi
4. Penalaran baik
5. Rasa ingin tahu besar
6. Rasa humor tinggi
7. Imajinasi luar biasa
8. Rentang perhatian lama untuk hal-hal yang diminati
9. Peduli terhadap masalah keadilan
10. Tingkat energy tinggi
11. Perfeksionis
12. Cenderung terpaku pada bidang yang diminati
13. Gemar membaca
14. Emosi peka
15. Lebih berkonsentrasi pada satu kegiatan
C. Identifikasi Anak Berbakat
1. Tahap Penjaringan (Screening).
Pada tahap penjaringan diberi tes Progressive Matrices dan tes Prestasi Belajar Baku.
2. Tahap Penyaringan (Selection)
Tes yang diberikan pada tahap ini adalah tes kreativitas verbal dan tes intelegensi kolektif Indonesia.
AKSELERASI
A. Pengertian akselerasi
Colangelo (1991) menyebutkan bahwa istilah akselerasi menunjuk pada pelayanan yang diberikan (service delivery), dan kurikulum yang disampaikan.
• Sebagai model pelayanan, siswa meloncat kelas dan mengikuti pelajaran tertentu pada kelas di atasnya
• Sebagai model kurikulum, akselerasi berarti mempercepat bahan ajar dari yang seharusnya dikuasai oleh siswa saat itu. Dalam hal ini, akselerasi dapat dilakukan dalam kelas reguler, ruang sumber, ataupun kelas khusus dan bentuk kelas reguler, ruang sumber, ataupun kelas khusus dan bentuk akselerasi yang diambil bisa telescoping dan siswa dapat menyelesaikan dua tahun atau lebih kegiatan belajarnya menjadi satu tahun atau dengan cara self-paced studies, yaitu siswa mengatur kecepatan belajarnya sendiri. Calanglo mengingatkan bahwa: akselerasi sebagai model pelayanan, gagal dalam memenuhi kurikulum deferensiasi bagi anak berbakat. Sebagai model kurikulum, akselerasi akan membuat anak berbakat menguasai banyak isi pelajaran dalam waktu yang sedikit. Anak-anak ini dapat menguasai bahan ajar secara cepat dan merasa bahagia atas prestasi yang dicapainya, di samping segi ekonomis. Secara umum, bentuk akselerasi telescoping menimbulkan masalah pada pihak sekolah sebagai penyelenggara dan guru, terutama dari sisi keterampilan dan manajemen waktu
B. Prinsip-prinsip Belajar Akselerasi
Belajar akselerasi sebagimana dipaparkan di atas dalam beberapa hal berbeda dengan belajar tradisional. Untuk mencapai keberhasilan belajar akselarasi ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan. Prinsip-prinsip belajar akselarasi menurut Dave Meier (Pusdiklat Depdiknas, 2008) menulis beberapa prinsip pokok pemeblajaran akselerasi, yaitu:
1. Adanya keterlibatan total pembelajar dalam meningkatkan pembelajaran.
2. Belajar bukanlah mengumpulkan informasi secara pasif, melainkan menciptakan pengetahuan secara aktif.
3. Kerjasama diantara pembelajar sangat membantu meningkatkan hasil belajar.
4. Belajar berpusat aktivitas sering lebih berhasil daripada belajar berpusat presentasi
5. Belajar berpusat aktivitas dapat dirancang dalam waktu yang jauh lebih singkat daripada waktu yang diperlukan untuk merancang pengajaran dengan presentasi.
C. Penerapan Strategi Kognitif dalam Akselerasi Pembelajaran
1. Strategi Kognitif sebagai pilihan untuk Akselerasi Pembelajaran
Tuntutan agar pembelajaran akselerasi mampu memenuhi harapan sebagaimana diuraikan di atas antara lain dapat dipenuhi dengan mengupayakan proses pembelajaran sedemikian rupa. Salah satu upaya yang dapat dipilih adalah menerapkan strategi kognitif dalam proses tersebut atau pembelajaran startegi kognitif. Cognitive Strategy Instruction (CSI) is an instructional approach which emphasizes the development of thinking skills and processes as a means to enhance learning (EduTech Wiki, 2006). Pembelajaran strategi kognitif menurut EduTech Wiki, adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan perkembangan keterampilan berpikir dan proses-proses sebagai suatu alat untuk meningkatkan belajar. Pembelajaran stategi kognitif menurut Scheid, dilaksanakan utnuk memenuhi tujuan tertentu. Dalam konteks ini Scheid menyatakan: The objective of CSI is to enable all students to become more strategic, self-reliant, flexible, and productive in their learning endeavors (EduTech Wiki, 2006).
2. Peran dan Tugas Guru dalam Belajar dan Pembelajaran Akselerasi
Agar pembelajaran cognitive strategi betul-betul efektif, maka ada beberapa ketentuan yang harus diikuiti oleh guru. Berkenaan dengan hal tersebut Cara Falitz (2006) menyatakan :
The first guideline is to teach prerequisite skills before strategy instruction begins. The second guideline would be for teachers to teach learning strategies on a constant basis and intensively. And the third guideline is requiring the student to gain mastery of a given strategy
Belajar merupakan proses holistik. Menurut Socrates dan John Dewey (Pusdiklat Depdiknas, 2008: 3), belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara mental dan fisik yang diikuti dengan kesempatan merefleksikan hal-hal yang dilakukan dari hasil perilaku tersebut. Menurut prinsip konstruktivisme, seorang pengajar atau guru, dan dosen berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu proses belajar siswa dan mahasiswa agar berjalan dengan baik. Fungsi mediator dan fasilitator dapat dijabarkan dalam beberapa tugas sbb:
• Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggungjawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian.
• Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa.
• Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan apakah pemikiran si siswa jalan atau tidak.
Berdasarkan paradigma konstruktivisme, guru dituntut untuk dapat menjalankan perandengan sebaik-baiknya agar proses belajar berhasil secara optimal. Peran guru dan tugas guru menurut paradigma konstruktivistik adalah :
• Guru banyak berinteraksi dengan siswa.
• Guru lebih banyak memberikan kesempatan untuk memecahkan masalah kepada siswa.
• Guru memberikan kesempatan kepada para siswa agar mereka belajar dengan bekerja sama. Belajar dengan bekerja sama dapat menguntungkan pembelajar karena mereka dapat saling member dan menerima. Materi yang tidak bisa dimengerti dengan bekerja sama akan dapat terpecahkan.
• Tujuan dan apa yang akan dibuat di kelas sebaiknya dibicarakan bersama.
• Guru perlu mengerti pengalaman belajar mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.
• Guru perlu memiliki pemikiran yang fleksibel.
Hal-hal yang penting dikerjakan oleh seorang guru konstruktivis sebagai berikut:
• Mendengar secara sungguh-sungguh interpretasi siswa terhadap data
• Memperhatikan perbedaan pendapat dalam kelas dan mengharga setiap pendapat yang diajukan.
• Memahami bahwa “tidak mengerti” adalah langkah yang penting untuk memulai menekuni.
Jika strategi kognitif dilaksanakan secara konsekuen dan ditunjang dengan fasilitas belajar yang memadai maka proses belajar dan pembelajaran akselarasi dapat membawa hasil, di mana peserta didik dapat menyelesaikan pendidikannya dengan hasil sebagaimana diharapkan dan dengan waktu yang lebih pendek.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: